
Teknologi semakin canggih, tetapi kemajuannya juga membawa risiko baru. Salah satu contohnya adalah deepfake, teknologi yang belakangan menjadi sorotan karena kasus video Sri Mulyani, Menteri Keuangan Indonesia. Video tersebut menampilkan pernyataan bahwa “gaji guru adalah beban negara.” Namun, setelah diselidiki, ternyata video itu adalah hasil rekayasa menggunakan teknologi deepfake.
Lantas, apa sebenarnya deepfake? Bagaimana dampaknya bagi masyarakat? Artikel ini akan menjelaskan secara singkat dengan bahasa yang mudah dipahami.
Apa Itu Deepfake?
Deepfake adalah video, gambar, atau klip audio yang dibuat atau direkayasa menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk menggambarkan sesuatu yang palsu seolah-olah nyata. Teknologi ini memungkinkan seseorang untuk membuat konten yang tampak autentik, padahal sebenarnya tidak benar terjadi.
Misalnya, wajah atau suara seseorang dapat diganti dengan orang lain tanpa izin mereka. Bahkan, teknologi ini bisa merekayasa ucapan atau tindakan tertentu yang sama sekali tidak pernah dilakukan oleh orang tersebut.
Kasus Sri Mulyani dan Deepfake
Baru-baru ini, publik dihebohkan dengan beredarnya video Sri Mulyani yang menyebut bahwa “gaji guru adalah beban negara.” Video tersebut viral di media sosial dan menuai kritik dari berbagai pihak. Namun, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) segera memberikan klarifikasi bahwa video tersebut adalah hoaks.
Menurut Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan, Deni Surjantoro, video tersebut merupakan hasil editan menggunakan teknologi deepfake. Faktanya, Sri Mulyani tidak pernah membuat pernyataan seperti itu. Video tersebut diambil dari pidato asli yang diedit ulang untuk menciptakan narasi palsu.
Kasus ini menunjukkan bagaimana deepfake bisa digunakan untuk menyebarkan informasi salah yang dapat menyesatkan masyarakat.
Mengapa Deepfake Berbahaya?
Teknologi deepfake sangat berbahaya karena dapat digunakan untuk:
- Manipulasi Informasi: Deepfake bisa menciptakan konten palsu yang meyakinkan, sehingga sulit dibedakan mana yang asli dan mana yang rekayasa.
- Mencemarkan Nama Baik: Tokoh publik seperti politisi, selebriti, atau pejabat negara rentan menjadi target penyalahgunaan deepfake.
- Menyesatkan Publik: Dalam kasus Sri Mulyani, deepfake digunakan untuk menyebarkan narasi negatif yang dapat merusak reputasi dan menimbulkan kebingungan di masyarakat.
- Mengancam Keamanan Siber: Deepfake bisa digunakan untuk penipuan, pemerasan, atau bahkan propaganda politik.
Bagaimana Cara Mengenali Deepfake?
Untuk melindungi diri dari hoaks deepfake, berikut beberapa tips yang bisa Anda lakukan:
- Perhatikan Gerakan Wajah dan Mulut: Pada deepfake, gerakan wajah atau mulut sering kali tidak sinkron dengan suara.
- Cek Sumber Video: Pastikan video berasal dari sumber tepercaya. Hindari membagikan konten yang belum diverifikasi.
- Gunakan Alat Deteksi Deepfake: Ada beberapa aplikasi dan alat online yang dirancang untuk mendeteksi deepfake.
- Waspadai Narasi Sensasional: Jika sebuah video terlihat terlalu sensasional atau provokatif, selalu cek kebenarannya sebelum mempercayainya.
Kesimpulan
Deepfake adalah teknologi canggih yang memiliki potensi besar, namun juga membawa risiko serius jika disalahgunakan. Kasus video Sri Mulyani adalah contoh nyata bagaimana deepfake bisa digunakan untuk menyebarkan informasi palsu demi tujuan tertentu.
Hubungi kami sekarang juga!
📞 Telepon/WhatsApp: 0821-4385-6608
🌐 Website: smartcomputindo.com

